Syar’i ku, tanda bakti ku untuk Bapak dan Kak Andi

Beberapa minggu yang lalu saya tersentak karna ucapan Ust. Khalid yang saya lihat di salah satu akun dakwah di instagram " Sejat...


Beberapa minggu yang lalu saya tersentak karna ucapan Ust. Khalid yang saya lihat di salah satu akun dakwah di instagram "Sejatinya ibadah harus dipaksakan, kalo tidak memaksa diri untuk sholat malam ya sampai mati ga akan pernah sholat malam". Selayaknya kata-kata yang sering saya dengar bahwa "hidayah itu di jemput, bukan ditunggu".


Jadi teringat ketika dulu sebelum "memaksakan" diri untuk berhijab sya'ri, saya terlalu takut atas pandangan orang kedepannya atas diri saya. Saya takut di pandang aneh dan kolot, saya takut dianggap tidak seasyik dulu oleh teman dan sahabat, saya takut dianggap tidak menarik oleh suami, saya takut dipandang sok alim, dan yang terpenting saya takut akhlak saya tidak sejalan dengan penampilan.

Tentu saja pada akhirnya apa yang ditakutkan tidak terjadi, saya jadi semakin yakin bahwa yang terbaik akan tetap tinggal ketika semuanya pergi. Lagipula teman-teman baik saya insya Allah adalah pribadi-pribadi yang Sholehah, jadi ga mungkin sekali kalo saya ditinggalin karna berhijab syar'i. Memang pada awalnya ada beberapa teman (yang bukan sahabat) jadiin ini bahan becandaan, Contohnya aja, "Assalamualaikum, Ustadzah" atau "eh, ada Ummi" udah biasa sih saya dengar, senyumin aja. Saya maklum sekali, teman-teman saya ini tidak merasakan betapa indah sekaligus berlikunya perjalanan hijrah saya, tidak apa-apa 😊

Perjalanan hijrah saya cukup panjang bila untuk dikatakan baru dimulai tapi juga terlalu dini untuk dikatakan selesai. Jujur aja mau cerita tentang perjalanan menuju syar'i ini maju mundurnya udah ga ngerti lagi kaya apa, agak malu saya kalo mau cerita, tapi ada beberapa teman pembaca blog ini yang udah setia membaca blogku dari jaman masih jadi "cabe hobi galau" dan juga beberapa teman dekat yang bertanya kok bisa mitha berhijab syar'i ?
     
Tulisan ini hanya menceritakan tentang pengalamanku, ga ada niatan sama sekali untuk merasa sok lebih baik dari temen-temen semua, nauzubillah min zalik. Karna pada dasarnya jalan hijrah tiap orang berbeda, ada yang harus menerima cobaan berat lalu kemudian hijrah, ada yang karena sakit, ada yang langsung memutuskan untuk sya'ri tepat setelah memutuskan berhijab dan lain-lain. Syukur Alhamdulillah saya termasuk yang ga diberikan cobaan, hormat dan salut saya untuk teman-teman yang diberikan Allah Subhanahuwata'ala cobaan berat tapi makin mendekatkan diri pada Rabb-nya. Semoga teman-teman diberi kemuliaan dan posisi tertinggi di sisi Allah Subhanahuwata'ala.

Ceritanya dimulai dari perjalanan berhijab dulu ya..

Awal cerita kenapa bisa memutuskan berhijab itu cukup panjang, saya pun kagum kepada Allah Subhanahuwata'ala sang maha pembolak balik hati. Kalo mesti di tulis kayanya bisa berseri-seri ini cerita, long story short saya berhijab di November 2004, setelah mengikuti pesantren Ramadhan wajib untuk anak kelas 1 di SMA saya. Sebenarnya sudah sering dinasehatin bapak kalo berhijab itu wajib, tapi kata-kata itu masih mental aja ga saya gubris, alasan utamanya karna saya lagi aktif-aktifnya jadi atlet dan melatih karate, padahal mah banyak karateka yang berhijab, saya nya aja yang terlalu nyari alasan.

Di Ramadhan 2004, saya mantap berhijab. Alhamdulillah sejak saat itu tidak pernah sekalipun saya keluar rumah tanpa kain yang menutupi kepala.

Apakah saat itu saya sudah langsung syar'i ? oo.. tentu saja tidak 😅 Kaos, jilbab yang kedua ujungnya ditarik kebelakang, cardigan, skinny jeans, dan sneakers adalah Signature outfit saya banget. Maklum setelah lulus SMA saya menjadi satu-satunya cewe dari 120 temen seangkatan di Jurusan yang sudah sangat terkenal jarang ada mahasiswa cewenya.

Awal saya mulai membuka hati untuk berhijab syari justru bertahun - tahun setelahnya, ketika melanjutkan kuliah di Depok, jiwa introvert saya seperti di atas angin. Soalnya mau kemana-mana harus sendiri, pengen apapun diusahain sendiri. Ketika sendirian rasanya saya jadi lebih waras dan pinter hahaha. Kemudian saat itu saya berfikir ..

Kenapa jilbab saya dan jilbab adik itu (mahasiswa S1 yang sedang mengerjakan tugas di Mushola FT UI) berbeda ?

Merantau mengajarkan saya banyak hal, belajar menahan air mata karna kangen rumah, belajar sabar, belajar mandiri, belajar sekuat tenaga agar lulus lebih cepat agar bisa hemat SPP 1 semester dan belajar merubah perspektif saya tentang wanita berhijab syari. Iya, dulu saya memandang asing saudari-saudari saya yang berhijab lebar.

Kuliah jauh dari rumah membuat saya punya banyak waktu belajar dan mengkaji Alquran di kostan sepulangnya dari kuliah, atau di Starbucks Perpus UI yang merupakan tempat semedi favorite saya. Jiwa introvert garis keras dalam diri saya memang selalu nyaman dalam kesendirian. Menyendiri untuk mengkaji terus menerus saya lakukan hingga akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa Saya belum sepenuhnya benar dalam berpakaian.

Allah maha besar, ditengah kegundahan hati saya, dihadirkanlah sosok mba Milda, yang disemester 2 hadir sebagai teman sekelas. Akhirnya saya ngerasain juga gimana rasanya punya teman sekelas perempuan 😅 Mba milda yang berhijab syari tapi berpikiran terbuka menjadi tempat "pelampiasan" saya dalam menggali rasa ingin tau tentang hakikat hijab sebenarnya. Saya sayang sekali sama mba Milda karna sifatnya yang seperti kakak sendiri dan tidak menyalahkan kefakiran ilmu saya akan makna hijab secara kaffah.

Bukan hanya dengan mba Milda, saya juga aktif diskusi dengan Puti, sahabat saya semasa SMA yang saat itu sedang menempuh pendidikan pascasarjana psikologi di Malaysia. Sama halnya seperti Mba Milda, Puti juga berfikiran terbuka. Kami sama-sama berhijab saat kelas 1 Sma, bedanya Puti lebih dulu berhijrah menggunakan hijab syari sedangkan saya masih asik sendiri. Dari beliau berdua saya mengunci hati bahwa hijab harus menutup dada.

Dari beliau berdua dan aktif mencari ilmu tentang makna Hijab lah yang akhirnya merubah cara pandang saya tentang sister fillah yang berhijab panjang dan lebar. Yang awalnya memandang aneh, berubah jadi kagum. Sungguh Allah Subhanahuwata'ala turun tangan langsung dalam menjaga mereka, menundukkan hati untuk berhijab syari. Melindungi mereka dari pandangan keji dan kejahatan hati dan nafsu manusia.
Setiap berpapasan saya selalu berdoa "Ya Allah ya Robb, semoga kiranya Engkau berkenan memberikan hidayah pada hati Hamba agar bisa seperti mereka"

Agustus 2014 , secara resmi saya di khitbah oleh calon suami. Khitbah yang sebenarnya bukan secara adat. Pembicaraan 4 mata antara Bapak dan calon suami saya. Dalam beberapa menit, setelah bapak menerima dan menyetujui niat baik calon suami maka resmilah saya menjadi calon istri seorang pria yang selama ini (jujur saja) selalu ada dalam doa.

Proses selanjutnya yaitu persiapan lamaran kemudian menuju pernikahan lagi-lagi menjadi salah satu proses pengkajian ilmu untuk saya. Saya belajar bagaimana menjadi istri yang baik menurut islam, melayani suami menurut islam, menuruti suami, dan belajar bahwa pernikahan adalah ibadah terpanjang sehingga harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Proses mengkaji ini akhirnya ada pada titik bahwa seorang anak perempuan dapat menarik ayah dan suaminya ke neraka atau ke surga karna lalai dalam cara berpakaian. Nauzubillah min zalik. Sungguh saya ga mau bapak masuk neraka  karna kelalaian saya.

Bismillahirohmanirohim, sejak hari itu saya semakin mantap berhijab syari, wide pants yang selama ini saya gunakan dalam proses peralihan secara resmi saya tinggalkan. Walau belum sepenuhnya, saya berusaha menguatkan dan memantapkan hati untuk semakin memanjangkan pasmina dan melebarkan rok saya.

Saat itu saya masih mengklaim bahwa "syari itu butuh proses", dikit-dikit lah, ga bisa langsung bikin gebrakan. Jujur saya takut sama kelemahan saya, yang mungkin suatu saat membuat saya kembali dalam kelalaian, jadi daripada balik lagi, mending dikit demi sedikit.

Tapi kemudian saya sadar, mau berapa lama lagi proses ini saya jalani ? Hidayah toh akan datang pada ia yang membuka hati, mau sampe kapan terlihat indah di depan mata manusia tapi mengabaikan tampilan didepan penduduk langit ? Apakah model hijab saya akan memberikan safaat pada saya dihari kiamat ?

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah memberikan saya suami yang selalu mengajak kebaikan, ga membiarkan saya berlaku dzolim pada diri sendiri, yang pada akhirnya menjadi orang satu-satunya yang saya pikirkan bagaimana nanti pandangannya terhadap diri saya. Support dan redhonya lah yang memudahkan jalan saya untuk "memaksakan diri " untuk berhijrah, karna belum tentu ada senja untuk raga ini, sehingga segala bentuk penundaan tidak akan saya diizinkan lagi.

Ya rabb, jadikanlah Hijab Syari saya sebagai pahala tanpa putus dan menjadi tanda bakti saya pada Bapak dan Suami. Kedua lelaki yang paling saya cintai.

Hingga hari ini banyak yang bingung kok bisa mitha si tomboy nyablak berubah jadi seperti ini, jujur sampai saat ini pun masih masa belajar menjadi lebih baik, masih fakir ilmu, masih suka lalai, masih ga bisa ngontrol mulut kalo lagi berkumpul sama sahabat, masih banyak banget butuh mengkaji dan mengsinkronkan antara hati, perbuatan, ucapan dan penampilan.

Semoga hijab saya dapat menjaga dan melindungi diri saya, Ayah dan suami saya dari azab kubur dan siksa neraka yang dikarenakan kelalaian dalam mendidik anak / istrinya, semoga hijrah ini bisa mengangkat derajat beliau berdua. Saya paham betul saya masih jauh dari sifat ahli syurga, saya masih fakir ilmu, saya butuh banyak belajar dan bimbingan.

Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini, dari hati terdalam saya doakan agar mantap dalam hijrah. Percayalah bahwa menjadi syari itu nikmatnya luar biasa yang ga bisa di deskripsikan. Bersegeralah memaksa diri sendiri untuk berubah menjadi selayaknya dirimu kau tempatkan.

Saya adalah korban keegoisan diri sendiri, yang berpegang pada "semua butuh proses", padahal proses itu saya sendiri yang mengatur. Keegoisan ini membuat butuh waktu lama untuk saya berhijrah hingga akhirnya berani memaksakan diri.

Alhamdulillah, hingga hari ini proses hijrah saya masih berjalan. Saya sudah tidak lagi memusingkan pandangan orang, tapi sekali lagi saya tekankan bahwa saya masih sangat butuh bimbingan. Alhamdulillah suami selalu ada untuk mengingatkan, mengayomi, menasehati, dan mendukung langkah hijrah saya.

Mungkin cerita panjang saya ini kurang faedahnya, disini saya cuma mau berbagi sama teman-teman bahwa kalo ngikutin hati proses hijrah ga akan pernah ada akhirnya, ga kelar-kelar. Karna Setan akan selalu menggoda dari sisi kiri, kanan, atas dan Bawah.

Yang paling utama dilakukan adalah membuka hati, buka dulu hatinya.. biarkan hidayah merasuki hati dan pikiranmu, jangan memandangnya dengan "belum siap", insya Allah kalo hidayah udah datang kamu akan kepikiran terus dan mulai mencari tau. Yang kedua adalah minta redho suami dan orang tua bagi yang belum menikah, percayalah redho suami itu masya Allah banget hebatnya. Segala urusan akan lancar tanpa halangan kalo suami redho, bagaimanapun usahamu berhijab syari adalah bentuk kasih sayang dan cintamu pada Suami dan ayahmu, agar beliau berdua terhindar dari azab kubur dan api neraka karna lalai dalam membimbingmu. Yang ketiga, ga usah pikirin omongan orang, proses hijrahmu adalah urusanmu secara vertikal pada Tuhan, mohon maaf sis.. Bahkan saudara kembar pun ga akan bisa menyelamatkanmu dari panasnya api neraka, apalagi orang lain yang cuma bisa berkomentar. Dan yang terakhir, tunggu apa lagi ? ayo segera lakukan proses hijrahmu, karna tidak ada yang bisa menjamin apakah kita bisa bangun dari tidur di besok hari.

Insya Allah, Bismillahirohmanirohim, semoga Jannah dan posisi yang mulia di sisi Allah Subhanahuwata'ala disediakan untuk teman - teman semua ♥️


Salam sayang,
Mitha Pisasefsio

You Might Also Like

0 komentar