Buku Favorite : 693 Km Jejak Gerilya Sudirman

Saya hampir ga pernah kelar baca sebuah buku dengan rasa kagum dan 'wow' yang luar biasa. Semua buku lebih sering berakhir dengan...


Saya hampir ga pernah kelar baca sebuah buku dengan rasa kagum dan 'wow' yang luar biasa. Semua buku lebih sering berakhir dengan perasaan "biasa aja" atau "biasa banget". Tapi buku ini, membuat saya merasa amat sangat dekat secara emosional dan membuat saya merasa terbang ke masa lampau dan ikut berjuang mempertahankan negara bersama idola saya yang luar biasa, Jendral Besar Sudirman. Saya rekomendasiin banget temen-temen untuk baca buku ini.




Penerbit:Nourabooks 
Code:978-602-1306-07-9 
Terbit:Cetakan pertama, awal 2015 
Jenis Cover:Soft Cover 
Halaman:328 
Ukuran:135 x 200 mm 
Berat:350 gram 
Bahasa:Indonesia 

Selain Rasulullah SAW, saya ga punya idola lain yang saya kagumi banget-bangetan selain Jendral Sudirman, saya ga pernah punya idola artis yang saya idolain dan suka banget. Tapi buat sang Jendral, saya ga keberatan buat nangis kejer dan nungguin 3x24 jam cuma buat dapet tanda tangan idola saya ini, tapi sayangnya itu ga akan pernah bisa terjadi, Al-Fatihah untukmu Jendral.

Sebagai pencinta sejarah, ketika suami beliin saya buku ini, saya senengnyaaaaa ga kira-kira. Buku ini bikin saya duduk diem, lupa sama hp lupa sama apapun kecuali makan, sholat dan cinta suciku pada suami. Dew..

Sebelum membaca buku ini, saya sudah tau bahwa Jendral Sudirman memimpin perang gerilya dari atas tandunya, tapi hanya sebatas itu. Buku ini membuat saya memasuki lorong waktu dan membuat saya memahami kemarahan, kekecewaan, rasa cinta tanah air, sulitnya kehidupan di medan perang, dan perihnya sakit parah yang di idap sang Jendral. Penggambaran situasi yang keren membuat kita yang membaca semakin larut di dalamnya dan seolah "tertarik" masuk ke dalam situasi itu.

Saya jadi ikutan was-was ketika pasukan Belanda semakin mendekat. Setelah membaca buku ini, saya bahkan mengobrak abrik google membaca ulang sejarah sang Jendral besar, melihat kondisi tandunya, dan menyesal kenapa tidak berkunjung ke museum Jendral sudirman ketika honeymoon ke Yogyakarta Juli lalu.

Begitu banyak korban yang jatuh, Satu persatu pahlawan dan teman seperjuangan sang Jendral yang gugur, kondisi tanah air yang mencekam, sukses di gambarkan dengan apik dan memberikan kesan duka cita dan pilu yang luar biasa.

Buku ini membuat kekaguman saya kepada sang Jendral kian menggebu, keberaniannya, kepatuhannua pada sang Pencipta langit, dan cinta nya yang tak terbatas pada tanah air, Ah, Jendral, kau sepatutnya memang Seorang Jendral besar.

Sekali lagi, Al-fatihah untukmu, Jendral.

You Might Also Like

2 komentar

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Kalau aku jarang baca buku biografi begini, dulu pernah baca tapi karena ejaannya masih ejaan lama banyak nggak pahamnya.:)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete
    Replies
    1. buku ini di tulis dengan alur seperti novel, penggambaran situasinya seolah di jalani langsung oleh Pak Jendral sendiri, coba di baca deh, lain dari yang lain bukunya :)

      Delete